19 Februari, 2011

HMI, SEBUAH KELAHIRAN..

...jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri diatas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk seperti kera kejepit dalam gelap... (Soekarno, 1966)

KENAPA COBA?
64 tahun sudah Himpunan yang mulai surut dan tertinggal beberapa langkah dari organisasi mahasiswa lainnya yang jauh berusia lebih muda ini hidup dan bergerak di bumi republik yang berusia terpaut 2 tahun lebih tua darinya. Hari ini kita akan mencoba ngomong apa yang telah dilewatinya di masa yang jelas tidak pendek tersebut dengan tema yang biasa kita sebut dengan “Sejarah Perjuangan HMI”.
Kita akan berbicara sejarah namun dengan catatan keras bahwa kita tidak akan menjadikannya sebagai historical romance ataupun menjadikannya sebagai historical burden bagi generasi hari ini apalagi berusaha mengulanginya, kenapa? Tidak lain agar kita tidak mengalami historical amnest dan karena HMI adalah organisasi yang selalu berlandaskan pada historical consciousness. ya, masa lalu adalah masa lalu kondisi hari ini tentu berbeda dan kita tidak memiliki masalah dengan masa lalu, kita memiliki masa depan. Walaupun dalam beberapa hal continuum ruang dan waktu tidak pernah terputus, sederhananya mustahil ada hari ini tanpa kemarin dan tidak akan mungkin ada esok kalau hari ini tidak ada!
Pertama-tama kita akan bahas apakah sejarah itu? menurut Murtadha Mutahhari, sejarah dapat didefinisikan ke dalam tiga cara, artinya ada tiga disiplin kesejarahan yang saling berhubungan erat; pertama, pengetahuan tentang kejadian-kejadian, peristiwa dan keadaan dimasa lampau, ini kita sebut dengan sejarah tradisional. Sejarah dalam pengertian ini merupakan pengetahuan tentang yang tertentu (pengetahuan tentang rangkaian episode pribadi/individual, bukan pengetahuan tentang hukum dan hubungan umum), selain itu ia merupakan telaah atas riwayat atau tradisi (bukan disiplin rasional), selanjutnya ia merupakan pengetahuan tentang ‘maujud’ bukan ‘menjadi’ juga pengetahuan tentang masa lampau bukan masa kini. Kedua, adalah apa yang disebut dengan sejarah ilmiah yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan analisis atas peristiwa-peristiwa masa lampau. Obyek telaahnya memang peristiwa-peristiwa masa lampau namun seperti ilmu pengetahuan alam, umumnya sejarawan dalam persfektif ini mencoba untuk menganalisis, menyelidikinya guna menemukan hukum-hukum umum tertentu, melalui penyimpulan berkenaan dengan alam dan sifat-sifat bendawinya serta hubungan sebab akibatnya dan menemukan hukum-hukum umum dan semesta yang berlaku pada semua peristiwa serupa di masa lampau dan masa kini bahkan masa mendatang. Ketiga, adalah falsafah kesejarahan. Pengertian ini didasarkan pada pengetahuan tentang perubahan-perubahan bertahap yang membawa dari satu tahap ke tahap lain. Ia membahas hukum-hukum yang menguasai perubahan-perubahan ini. Dengan kata lain ia adalah ilmu tentang ‘menjadi’ masyarakat bukan ‘maujud’nya saja. Kata ‘kesejarahan’ dalam ‘falsafah kesejarahan’ bukan berarti pengertian ini berhubungan dengan masa lampau, melainkan berarti bahwa falsafah kesejarahan merupakan telaah tentang arus menerus yang berasal dari masa lampau dan terus mengalir menuju masa mendatang.
Maka dari itu ngomong sejarah adalah sangat penting—dalam konteks HMI, sejarah perjuangan HMI adalah salah satu materi wajib bagi kadernya—karena sejarah tidak saja sekedar gambaran perjalanan masa lalu tetapi juga cerminan bagi masa yang akan datang, karena sejarah pula orang akan mengenal dirinya, samen bundeling van alle revolutionaire krachten in de natie kata Soekarno, sejarah yang sama akan menjadi pengikat kekuatan suatu bangsa atau kelompok, sejarah juga menciptakan suatu lapangan yang membangkitkan kesadaran kemanusiaan. Ingat bahwa suatu bangsa atau organisasi bangkit dari sejarah dan melalui sejarah pula kita terbentuk. Al Qur’an sendiri menunjuk pada segi-segi bermanfaat kehidupan para saleh yang dipandangnya sebagai teladan yang patut ditiru seperti “Sungguh, pada diri Rasulullah itu kamu memiliki suri tauladan yang baik bagi siapapun yang merindukan Allah dan hari akhir, dan ia banyak mengingat Allah” (Qs. 33: 21)  atau “Kamu memiliki satu contoh yang baik pada diri Ibrahim, dan mereka yang bersamanya..." (Qs. 60: 4). Sejarah yang akan mengingatkan kita pada mimpi, cita-cita dan tujuan kenapa kita berhimpun? Aku tau ngomong sejarah pasti cukup membosankan, tetapi aku tidak mau dengar ada yang ogah-ogahan karena kupikir beberapa alasan diatas cukup setimpal untuk satu yang bernama kebosanan, cukup setimpal...  

SEDIKIT TENTANG AYAHANDA...
Lafran Pane
Lafran Pane(1) lahir di Padangsidempuan tanggal 5 Februari 1922(2) adalah anak bungsu dari enam bersaudara, dua tahun setelah Lafran kecil lahir ibunya meninggal dunia, ayahnya bernama Sutan Pangurabaan Pane(3), neneknya adalah adik dari ulama besar di Sipirok yaitu Syekh Badurrahman Pane. Dua abangnya, Sanusi Pane dan Armijn Pane, dicatat sebagai tokoh dan pelopor Pujangga Baru di lembar kesusasteraan Indonesia. Menurut cak Nur—panggilan ta’dzim kepada kakanda Prof. DR. Nurcholish Madjid—dalam diri Lafran terdapat suatu kearifan (wisdom) yang tersembunyi dan latent, yaitu kesadaran keangamaan dan kebangsaan yang inklusifistik. Pandangan ini jauh lebih luas dan bersifat melampaui primordialisme keagamaan konservatif.(4) karena tumbuh dikeluarga terpelajar menurut cak Nur, Lafran telah terbiasa dengan wawasan keagamaan-keindonesiaan modren dengan pandangan sosial-politik-religius yang serba meliputi. Namun kalau kita berspekulasi lebih jauh kata Prof. DR. Azyumardi Azra, MA., M.Phil.(5) kosmopolitanisme pandangan Lafran tidak hanya karena ia anak Sutan Pangurabaan Pane—tokoh pergerakan nasional “serba komplit”—melainkan lebih-lebih merupakan “buah” dari pergulatan Lafran kecil, remaja hingga menginjak dewasa yang tidak “normal”.(6) Hal lain antaranya disebabkan oleh situasi penjajahan yang memaksa Lafran muda ikut berpindah-pindah tempat mengikuti orang tuanya bertugas.
Sepanjang pengembaraannya itu Lafran Pane mengalami proses konversi kejiwaan yang radikal. Talenta insan kamilnya tergugah untuk mencari apa sebenarnya hakekat hidup, Lafran menyadari betul akan arti pentingnya kembali kepada keyakinannya yang mendasar, ia sering merenung dan tafakkur. Dasar agama yang didapat dari proses pendidikan, asuhan dan didikan agama serta jiwa nasionalisme yang ditanamkan ayahnya serta realitas masyarakat kampung halamannya yang taat melaksanakan ajaran agama semakin mendorong dirinya untuk kembali menemukan jati dirinya menjadi seorang muslim yang teguh. Pada desember 1945  Lafran pindah ke Yogyakarta, tidak lama berselang, 4 Januari 1946 Presiden dan Wakil Presiden hijrah ke Yogyakarta, yang kemudian menjadi ibukota Republik Indonesia.
Sekolah Tinggi Islam (STI) yang didirikan di Jakarta pindah ke Yogyakarta(7), Lafran mendaftar sebagai mahasiswa STI, disini pelajaran agama ia dapatkan lebih intensif dari dosen-dosen STI seperti Prof. Abdul Kahar Muzakkir, Husein Yahya, H.M. Rasyidi, dll selain di bangku kuliah ia juga pelajari secara otodidak. Belum sempat tamat di STI atau UII pada 1948 Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP). Tatkala Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada bersama Fakultas Kedokteran di Klaten, Surakarta, dan AIP Yogyakarta dinegerikan pada 19 Desember 1949 menjadi Universitas Gajah Mada (UGM), otomatis Lafran menjadi mahasiswa UGM pertama. Di UGM, AIP diubah menjadi fakultas Hukum Ekonomi Sosial Politik (HESP). Lafran Pane adalah mahasiswa yang lulus pertama, memperoleh gelar sarjana dalam ilmu politik (Drs.) pada 26 Januari 1953.
Itu mungkin sedikit tentang siapa ayahanda Lafran Pane dan perjalanan hidupnya dalam mencari jati diri yang jelas akan sangat susah di gambarkan dengan tulisan dalam beberapa carik kertas, namun yang lebih penting sebagaimana diakui secara jujur oleh Sudjoko Prasodjo bahwa “sesungguhnya tahun-tahun permulaan riwayat HMI hampir identik dengan kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang memegang andil terbanyak pada mulabuka lahirnya HMI, untuk tidak menyebutnya sebagai pendiri utamanya.”(8) atau tidak berlebihan mungkin seperti kata Cak  Nur bahwa Lafran Pane adalah seorang “visioner jenius pada abad ke-20” dan seorang inovator yang lahir 100 tahun mendahului zamannya.(9)

IDE DASAR DAN LATAR BELAKANG...
            Sebagaimana ditulis diatas bahwa kelahiran HMI tidak terlepas dari peran Lafran Pane sebagai pemrakarsa pendiri, maka menjadi wajib bagi kita untuk mengetahui ide dasar, gagasan awal atau pemikiran tentang berdirinya HMI, dimana pemikiran jelas tidak mungkin muncul tanpa konteks, tentang pemikiran ini bisa kita lacak dari tulisan Lafran Pane dalam menyambut Kongres Muslimin Indonesia yang diadakan di Yogyakarta tanggal 20-25 Desember 1949 dengan judul “Keadaan dan Kemungkinan Islam di Indonesia” yang ditulis tanggal 12 Desember 1949.
            Ada beberapa pokok pikiran yang bisa kita catat dalam tulisan itu yakni; Pertama, bahwa manusia memiliki banyak sifat asasi diantaranya adalah manusia sebagai makhluk sosial dan sifat contoh mencontoh. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa melepaskan diri dari masyarakat, maka ia harus bisa menyelaraskan dirinya dalam kehidupan masyarakat atau mengubah masyarakat sebagaimana kehendaknya. Dalam sifat mencontoh, manusia tidak akan mencontoh apa yang dianggapnya jelek atau dipandangnya lebih rendah darinya. Kedua, akibat tindasan dan pendidikan Belanda, umumnya bangsa Indonesia merasa lebih rendah derajatnya dari bangsa itu dan bangsa barat lainnya. Padahal kalau agama Islam diterapkan dalam kehidupan masyarakat di segala lini, tidak mungkin Belanda menjajah dan mengeksploitasi kita begitu lama. Ketiga, kondisi umat Islam indonesia yang terbagi menjadi 3 golongan, yaitu; golongan alim ulama yang mempraktekkan ajaran agama sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. yang tidak lepas dari kondisi masyarakat arab yang sebenarnya berbeda kondisi dengan masyarakat Indonesia, golongan ini mengganggap bahwa bangsa arab lebih tinggi derajatnya, akhirnya mereka mencoba hidup seperti orang arab karena hidup golongan ini sangat tertutup maka hampir tidak ada perubahan dalam pikiran mereka. Berikutnya, golongan alim ulama yang terpengaruh mistik, golongan ini berorientasi pada akherat, tidak memikirkan dunia apalagi perubahan. Mereka bahkan berpandangan hidup miskin dan  menderita adalah jalan bersatu dengan Tuhan. Golongan terakhir adalah golongan kecil yang mencoba menyesuaikan perkembangan zaman. Mereka berusaha supaya agama itu benar-benar dapat dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat. Dalam suatu masyarakat dimana berada bermacam aliran kebudayaan, maka timbullah perjuangan antara satu mempengaruhi yang lain dan masing-masing berlomba mencari penganut. Demikianlah kebudayaan Islam pun akan menghadapi tantangan itu kalau ingin hidup sewajarnya, diantaranya yang terbesar adalah; (1). Aliran kebudayaan barat yang diwakili Amerika dan Belanda, (2). Komunisme dan Sosialisme, (3). Agama kristen yaitu Katolik dan Protestan, (4). Aliran kebudayaan kebangsaan yang cenderung sosialisme (marxisme) dan dikembangi sedikit oleh kebatinan dan kesusilaan (Hindu Jawa). Aliran kesatu, dua dan tiga sangat kuat organisasinya, dan juga materi tenaga seperti keuangan, alat-alat dll. Melihat kondisi umat islam indonesia seperti diatas maka menurut Lafran Pane kita harus melakukan Pembaharuan selain agar tidak tersingkir dari beberapa aliran diatas. Maka untuk melakukan gerakan pembaharuan mutlak dibutuhkan alat perjuangan yang berupa organisasi, karena gerakan tidak bisa dilakukan sambil lalu melainkan harus dengan suatu usaha yang teratur dan berencana.(10)
            Dalam Seminar Sejarah HMI di Malang tanggal 27-30 November 1975 ada dua buah tulisan yang membahas mengenai Latar Belakang berdirinya HMI yang kemudian dijadikan bahan dalam Buku Pedoman Latihan Kader I HMI11 yakni tulisan A. Dahlan Ranuwiharja, Ahli Stratak HMI, Ketua Umum PB HMI periode 1953-1955 dan tulisan Agus Salim Sitompul, Sejarahwan HMI, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta periode 1968-1969. Dari kedua buah tulisan tersebut dapat kita simpulkan, bagaimana latar belakang kelahiran atau berdirinya HMI, yaitu sebagai berikut;
Pertama, Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) yang berdiri bulan Oktober 1946 yang terdiri dari mahasiswa STT, STI dan BPT gajah Mada—dan Syerikat Mahasiswa Indonesia (SMI) terdiri dari mahasiswa Klaten, Solo dan Jakarta—yang cenderung sekuler dan berhaluan komunis sehingga kehidupan mahasiswa jauh dari sentuhan spiritual disamping itu PMY tidak memperhatikan kepentingan mahasiswa beragama (dengan begitu gerakan untuk memunculkan organisasi mahasiswa Islam yang didorong oleh alasan untuk menampung aspirasi mahasiswa Islam akan kebutuhan, pemahaman, penghayatan keagamaan yang aktual baru muncul di akhir November 1946).   
Kedua, Polarisasi politik akhir tahun 1946 sampai awal 1947 khususnya di ibukota RI Yogyakarta, antara Pemerintah (dipelopori oleh Partai Sosialis, Pimpinan Syahrir Amir Syarifudin) yang menitikberatkan perjuangan memperoleh pengakuan kedaulatan RI dengan cara diplomasi dan Pihak Oposisi (yang dipelopori Masyumi, PNI dan Persatuan Perjuangan) dengan perjuangan bersenjata.
            Ketiga, Dominasi Partai Sosialis terhadap PMY—karena PMY sedari awal lebih berorientasi pada Partai sosialis—akhirnya membawa pada polarisasi gerakan mahasiswa. penentangan terhadap dominasi PMY oleh partai sosialis tidak cuma datang dari mahasiswa Islam tapi juga mahasiswa Katolik, Kristen dan mahasiswa yang berwarna polos. (disinilah kemudian momen tepat untuk membuat organisasi mahasiswa Islam karena pada akhir 1946 alasan kenapa tidak melakukannya adalah pada saat itu dibutuhkannya persatuan disamping memang akan sangat tidak simpatik ketika potensi mahasiswa digalang untuk mempertahankan negara RI. Dan penentangan mahasiswa terhadap dominasi Partai Sosialis kelak melahirkan HMI, PMKRI, GMKI, PMI yaitu organisasi mahasiswa “polos”).
            Keempat, Suasana bangsa Indonesia yang tengah mengalami masa revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan disamping itu perlunya persatuan mahasiswa dalam menghadapi Agresi Militer Belanda,—dibentuknya Perhimpunan Persyerikatan-persyerikatan Mahasiswa Indonesia (PPMI) oleh Kongres Mahasiswa Seluruh Indonesia di Malang tanggal 8 Maret 1947—. (kita pasti tidak lupa dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda tanggal 27 Desember 1949 yang bagi kita adalah Pengakuan Kedaulatan karena kita telah memproklamirkan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 namun bagi Belanda adalah Penyerahan Kedaulatan dan tidak mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945 sehingga dalam paruh 45-49 masih melakukan Agresi Militer I dan II bulan Juli 1946 dan Desember 1948).
            Kelima, Tenggelamnya ruh dan semangat Islam dalam mahzabisme, sufisme dan tertutupnya pintu ijtihad. Namun disamping itu bangkitnya Islam yang dimulai dari dunia arab berupa gerakan reformasi dan modernisasi dalam tata kehidupan keagamaan umat Islam dan resonansinya mengilhami dan mendorong umat Islam Indonesia untuk bangkit, kebangkitan terlihat dari munculnya Serikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Al-Jamiatul Wasliyah, Persatuan Umat Islam, Persatuan Islam dan Masyumi.
            Keenam, Terjadinya krisis keseimbangan dikalangan mahasiswa akibat perguruan tinggi yang tidak mengintegrasikan antara disiplin Ilmu dan Agama.(kelak integrasi Ilmu-Agama akan melahirkan konsepsi Ulama-Cendikiawan, Cendikiawan-Ulama)(12)
            Akhirnya setelah “menahan diri” selama 3 bulan 15 orang mahasiswa STI Tingkat I Yogyakarta—yang kemudian ditetapkan sebagai pendiri HMI—telah berketetapan hati mengambil keputusan pada hari Rabu Pon 1878, 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947 di Kampus STI pada jam kuliah tafsir dari bapak Husein Yahya pukul 16.00, menetapkan berdirinya organisasi “Himpunan Mahasiswa Islam” disingkat HMI, yang bertujuan; a. Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia, b. Menegakkan dan Mengembangkan Agama Islam.(13)
Kelahiran HMI yang hanya berselang 2 tahun dari proklamasi kemerdekaan, cukup menggambarkan suasana revolusioner kala itu, bagaimana HMI juga ikut mempertahankan kemerdekaan membuktikan bahwa HMI adalah anak kandung revolusi dan anak kandung umat Islam yang gelisah atas gelagat sejarah yang jauh dari nuansa keagamaan, sedang dari latar belakang yang digambarkan diatas, dapat terlihat bahwa ketika organisasi ini lahir cenderung menempatkan diri sebagai Anak Umat dan Anak Bangsa sekaligus. Namun bagaimanapun juga HMI lebih menempatkan diri sebagai Anak Umat dari pada Anak Bangsa, ini tak terelakkan lagi setelah 9 bulan HMI berdiri dengan dilaksanakannya Kongres I HMI di Yogyakarta, 30 November 1947 yang memutuskan rumusan tujuan mengalami perubahan, sehingga berbunyi; a. Mempertegak dan mengembangkan ajaran agama Islam, b. Mempertinggi derajat rakyat dan negara Republik Indonesia(14) Dalam perjalanan selanjutnya rumusan tujuan tersebut lebih dikenal dengan istilah komitmen keislaman dan komitmen keindonesiaan.

Billahittaufiq Wal Hidayah. 



1 Biografinya pertama kali ditulis oleh Sudjoko Prasojo di Majalah Media terbitan PB HMI Nomor 7 tahun III, Rajab 1376 H/Februari 1957, halaman 32. Tulisan ini menjadi sangat penting bahkan menjadi sumber sejarah yang paling lengkap yang dijadikan landasan Kongres ke-11 HMI di Bogor tahun 1974, yang menetapkan Lafran Pane sebagai Pemrakarsa Pendiri HMI, pengukuhannya berdasarkan kesaksian sejarah. Selain diujudkan dalam Ketetapan Kongres Nomor XIII/K-XI/1974, juga diujudkan Piagam yang terbuat dari Perunggu dibungkus kaca, yang ditandatangani Ketua Umum PB HMI Akbar Tanjung dan Sekretaris Jendral PB HMI Gambar Anom. Lihat Agus Salim Sitompul, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam Tahun 1947-1993 (Jakarta : Intermasa, 1994) hal.32-33
2 Untuk menghindari berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan tanggal berdirinya HMI, Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi 12 April 1923. Hal ini untuk pertama kali diungkapkan Dra. Tetty Sari Rakhmiati, putri bungsu Lafran Pane yang didampingi abangnya Ir. M. Iqbal Pane dan Bu Lafran Pane pada tanggal 25 Januari 1991 ketika jenazah almarhum Lafran Pane menjelang dimakamkan. Ibid., 4 hal.37 
3 Seorang tokoh pergerakan nasional di Kecamatan Sipirok khususnya di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara pada umumnya. Sipirok terletak 38 km dari Padangsidempuan, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan. Sutan Pangrabaan adalah tokoh Partindo (Partai Indonesia) di daerah Sumatera Utara, berprofesi sebagai wartawan dan penulis. Disamping itu beliau juga seorang pengusaha, menjabat sebagai direktur jasa angkutan ODP (Oto Dinas Pengangkutan) sibualbuali, yang berdiri 1937 dan berkedudukan di Sipirok. Dalam pergerakan Islam, Sutan Pangurabaan termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Lihat Agus Salim Sitompul, Menyatu dengan Umat, Menyatu dengan Bangsa; Pemikiran Keislaman-Keindonesiaan HMI (1947-1997) (Jakarta : Logos, 2002). hal.45 
4 Nurcholish Madjid, “HMI, dari Anak Umat ke Anak Bangsa,” dalam Ramli H.M. Yusuf (ed.), 50 Tahun HMI Mengabdi Republik (Jakarta : LASPI, 1997), hal. 114
5 Ketua Umum HMI Cabang Ciputat periode 1981-1982 sekarang Rektor Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
6 Pendidikan awal Lafran ditempuh di Pesantren Muhammadiyah Sipirok, kemudian masuk sekolah desa selama 3 tahun (tidak tamat) lantas ke H.I.S Muhammadiyah di Sibolga, kembali lagi ke Sipirok masuk Ibtidaiyah dengan tingkat Al-Wustha (tingkat menengah). Di Al-Wustha Lafran tidak bertahan lama dia pindah ke Taman Antara Taman Sipirok, kemudian berpindah ke Sekolah yang sama di Medan, kehidupannya di tanah Deli ini bertambah merosot. Lafran dikeluarkan sebelum sempat menamatkan sekolahnya. Dia meninggalkan rumah kakaknya Ny. dr. Tarip, dan Lafran hidup bertualang di sepanjang jalan kota Medan, tidur tidak menentu, kadang-kadang sudah tergeletak di kaki lima, di emper-emper pertokoan. Untuk menyambung hidupnya, Lafran menjual karcis bioskop, main kartu, menjual es lilin,dll
Tahun 1937 Lafran hijrah ke Jakarta, dibawah asuhan abangnya Sanusi Pane dan Armijn Pane. Di sini ia masuk H.I.S lantas ke MULO Muhammadiyah, seterusnya masuk ke A.M.S. Muhammadiyah. Dari pendidikan Muhammadiyah ia pindah lagi ke Taman Dewasa Raya Jakarta—disini Lafran bertemu Djakfar Nawawi (DN) Aidit yang kemudian berganti nama Dipa Nusantara (DN) Aidit—sampai pecah Perang Dunia II pada tahun 1941. Di sekolah yang pernah dimasukinya Lafran tercatat sebagai murid cerdas walau nakalnya luar biasa. Tahun 1942 Lafran pulang ke kampung halamannya sebagai Pokrol. Nasib malang menimpanya, dia difitnah dan dituduh memberontak kepada jepang  dengan tuntutan hukuman mati. Berkat pengaruh ayahnya dan wibawa ayahnya Lafran tidak jadi dihukum mati. Lafran belum menyerah pada tahun 1943 dia merantau ke Jakarta untuk kedua kalinya. Ibid., hal. 45-46
7 STI didirikan di Jakarta 8 Juli 1945. Karena ibukota RI hijrah ke Yogyakarta, maka STI pun ikut pindah. Setelah perpindahan itu baru pada 10 April 1946 STI dibuka kembali secara resmi yang memiliki Fakultas Agama, Hukum, Pendidikan dan Ekonomi. Pada 10 Maret 1948 STI diubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).
8 Lihat Azyumardi Azra, “Mengabdi Republik, Memberdayakan Umat. Apresiasi atas Pemikiran Keislaman  dan  Kiprah  Keindonesiaan  HMI”  dalam  Agus  Salim  Sitompul,  Menyatu  dengan  Umat, Menyatu dengan Bangsa; Pemikiran Keislaman-Keindonesiaan HMI (1947-1997) (Jakarta : Logos, 2002). hal.xiv    
9 Lihat Nurcholish Madjid, “HMI Sebuah Gejala Keislaman dan Keindonesiaan” dalam Agus Salim Sitompul, Pemikiran HMI, hal.vi 
10 Lihat Lafran Pane, “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia” dalam Agus Salim Sitompul, ed., HMI Mengayuh di antara Cita dan Kritik. (Yogyakarta : Aditya Media, 1997) hal.3-6
11 Sebagai hasil dari pemikiran, pendapat dan pandangan maka Sidang Pleno Seminar Sejarah HMI, telah menuangkan tentang motivasi dan latar belakang berdirinya HMI. Proses berdirinya dan pendiri HMI dalam Ketetapan Seminar Sejarah HMI No. 001/SS-HMI/1975 dengan formulasi sederhana.
12 Lebih jelas lihat Hasil Kongres XXIV HMI
13 Kelima belas orang pendiri itu adalah; Lafran Pane, Kartono Zarkasi, Dahlan Husein, Maisaroh Hilal, Soewali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Bidran Hadi. Lihat Agus Salim Sitompul, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam Tahun 1947-1993 (Jakarta : Intermasa, 1994) hal.156-157
14 Bandingkan dengan rumusan tujuan hasil rapat 5 Februari 1947, Pasal 4 Anggaran Dasar hasil Kongres I ini membalik angkanya saja b) menjadi a) dan a) menjadi b). rumusan tujuan ini kemudian mengalami perubahan lagi pada Kongres IV di Bandung, Oktober 1955 dengan pertimbangan akan kurang tepat jika memposisikan HMI sebagai organisasi massa apalagi kekuatan politik (praktis), sehingga disepakati memfungsikan HMI sebagai organisasi Kader. Dengan demikian rumusan tujuan menjadi “Ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam”. Namun dalam perjalanan HMI selanjutnya terasa ada yang kurang dari rumusan tujuan tersebut yakni fungsi lebih lanjut dari “manusia akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam” itu serta di bumi apa insan cita itu hidup dan bergerak. Karena itu pada Kongres X di Palembang, Oktober 1971 melengkapi rumusan tujuan tersebut sambil memperbaiki redaksinya sehingga berbunyi “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala." Dimana rumusan tujuan itu dikokohkan dalam kongres-kongres berikutnya sampai yang terakhir Kongres XXVII di Depok, Nopember 2010.


related post



0 komentar:

Poskan Komentar

sebenernya sih enggan, karena takut juga dengernya, tapi gimana lagi ntar dibilang melanggar HAM, ga' ngasih tempat buat protes, dah nulis ga' tanggung jawab.. okelah konstruktif, dekonstrukstif maupun dekstruktif sekali pun aku siap dengarnya.
thanks for comment..